Mahasiswa FILKOM Universitas Klabat Tembus Top 10 Finalis Internasional Proto-A-Thon 2026 dengan Solusi Shared Cold Chain FreezGo

Mahasiswa FILKOM Universitas Klabat Top 10 Finalis Internasional Proto-A-Thon 2026 dengan inovasi Shared Cold Chain FreezGo
Mahasiswa FILKOM Universitas Klabat Top 10 Finalis Internasional Proto-A-Thon 2026 dengan inovasi Shared Cold Chain FreezGo

Tiga mahasiswa Universitas Klabat dari Prodi Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Tim Tung Tung UVICS yang terdiri dari Febriansyah Javier Anton Sahay, Matthew Eauggelion Pangemanan, dan Jeremiah Andrew Lengkong, ketiganya mahasiswa semester 2 berhasil menembus babak final dan meraih predikat Top 10 Finalis pada ajang Proto-A-Thon 2026 International Prototype Design Competition yang diselenggarakan oleh BINUS University Bekasi pada 4 – 5 Juni 2026.

Kompetisi bertaraf internasional ini diikuti oleh 70 tim dengan total 210 peserta dari 10 negara. Dari seluruh peserta yang mendaftar, hanya 10 tim terbaik yang berhasil lolos ke babak final dan Tung Tung UVICS menjadi salah satunya.

Tentang Proto-A-Thon 2026

Proto-A-Thon 2026 merupakan kompetisi desain prototipe bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh School of Information Systems serta Employability & Entrepreneurship INNOGEN Lab, BINUS University Bekasi. Kompetisi ini berkolaborasi langsung dengan ID FOOD (BUMN Holding Pangan) dan CHI UX Indonesia (Indonesia ACM SIGCHI Chapter), terbuka bagi seluruh mahasiswa aktif tingkat D3, D4, maupun S1. Tema yang diusung adalah “Transforming Food Supply Chains with Innovative Digital Experiences”, menantang peserta untuk merancang solusi digital inovatif guna mengatasi inefisiensi, kurangnya transparansi, serta rendahnya integrasi digital dalam ekosistem rantai pasok pangan di Indonesia.

Babak Penyisihan: Lahirnya FreezGo

Pada babak penyisihan, tim Tung Tung UVICS mengidentifikasi akar permasalahan struktural yang selama ini membelit rantai pasok pangan segar Indonesia: dari 48 juta petani kecil yang tidak memiliki akses digital terintegrasi, hingga 7–10 lapisan tengkulak yang menyebabkan harga komoditas melonjak drastis. Sebagai gambaran nyata, harga cabai di Jakarta dapat mencapai 7 kali lipat harga yang diterima petani di Garut — di mana petani hanya menikmati kurang dari 20% dari harga retail. Belum lagi, sekitar 30–40% hasil panen segar terbuang sia-sia setiap tahunnya akibat buruknya koordinasi distribusi dan minimnya akses ke logistik pendingin, yang secara nasional menyebabkan kerugian lebih dari Rp 500 triliun per tahun.

Berangkat dari masalah tersebut, tim merancang FreezGo platform shared cold chain pertama di Indonesia yang mengonsolidasikan muatan parsial dari beberapa petani kecil ke dalam satu armada truk pendingin bersama. Dengan memanfaatkan algoritma AI Load Aggregation berbasis Python dan OR-Tools, FreezGo mampu mengelompokkan dan mengoptimalkan rute penjemputan secara otomatis. Platform ini hadir dalam tiga antarmuka sekaligus: Aplikasi Petani untuk memasukkan komoditas, bobot kargo, dan jadwal jemput sekaligus memantau suhu dan posisi truk secara real-time; Aplikasi Driver yang dilengkapi navigasi rute optimal dan pemindaian QR Code berbasis Blockchain; serta Web App Buyer Lite bagi pembeli B2B untuk memantau live tracking dan menerima resi digital yang telah terverifikasi Blockchain sebagai bukti kepatuhan rantai dingin.

Secara teknis, FreezGo dibangun di atas tumpukan teknologi yang kokoh: sensor IoT Teltonika untuk pemantauan suhu tiap 30 detik, Node.js sebagai API Server, TimescaleDB untuk basis data deret waktu, serta Hyperledger Fabric sebagai lapisan Blockchain yang menjamin data bersifat permanen dan tidak dapat dimanipulasi. Prototipe High Fidelity dikerjakan di Figma dan mencakup 35 layar. Seluruh karya dikemas dalam pitch deck PDF 25 halaman yang dinilai secara anonim oleh dewan juri.

Babak Final: Modul Crisis / Early Warning Center

Lolos ke babak final membawa tantangan baru. Panitia merilis kasus tambahan (extra challenge) dari mitra resmi ID FOOD bertajuk “Designing for the Stakeholders Behind the User”, yang menguji kemampuan tim dalam merancang pengalaman digital bagi pemangku kepentingan di balik pengguna utama — mulai dari eksekutif, regulator, hingga investor ESG.

Dari empat opsi modul yang tersedia, tim Tung Tung UVICS secara strategis memilih Option C: Crisis / Early Warning Center. Pertimbangannya jelas: opsi lain hanya menambahkan lapisan pelaporan statis, sementara modul Crisis Center langsung menyelesaikan kebocoran biaya nyata akibat kerusakan kargo di lapangan secara real-time — sebuah missing link yang belum dimiliki FreezGo meski sensor IoT dan Blockchain-nya sudah berjalan.

Dalam sesi 12 jam live prototyping, tim merancang ulang alur kerja krisis dengan berfokus pada persona pengguna baru: Pak Rudi, Operations Lead di FreezGo Hub, yang memiliki golden window hanya 3 menit untuk merespons sebelum komoditas membusuk. Hasilnya adalah tiga fitur unggulan: Alert-First Layout dengan sistem kode warna keparahan (Merah/Kuning/Hijau) yang memastikan insiden suhu kritis langsung muncul di baris teratas dasbor; Fitur Reroute Saran AI yang secara otomatis menghitung nilai kargo terancam dan merekomendasikan Cold Hub terdekat beserta estimasi kerugian yang dapat diselamatkan; serta 1-Click Remediation yang memungkinkan operator mengeksekusi tiga tindakan sekaligus memperbarui navigasi driver, memperbarui ETA bagi buyer, dan mengunci rekaman insiden ke Ledger Hyperledger Fabric hanya dengan satu klik konfirmasi.

Dampaknya terukur: waktu respons krisis dipangkas dari rata-rata 45 menit menjadi kurang dari 30 detik, sekaligus mengamankan potensi kehilangan komisi akibat sengketa SLA senilai Rp 48 juta per bulan. Dengan penambahan modul ini, FreezGo bertransformasi dari sekadar aplikasi logistik pengiriman menjadi sebuah Infrastruktur Manajemen Risiko Pangan nasional yang komprehensif.

Seluruh hasil pengerjaan disajikan dalam tiga luaran: pitch deck 25 slide, presentasi ringkas 5 slide, dan prototipe interaktif Figma yang didemonstrasikan secara live di hadapan dewan juri dalam Bahasa Inggris.

Bangga Membawa Nama UNKLAB

Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNKLAB, khususnya komunitas UVICS (UNKLAB Virtue in Computer Science) yang selama ini aktif mendorong pengembangan diri mahasiswanya baik secara teknis maupun non-teknis. Keberhasilan tim Tung Tung UVICS membuktikan bahwa mahasiswa semester awal pun mampu bersaing di level internasional dengan ide yang matang, metodologi yang kuat, dan keberanian untuk terus berinovasi, selaras dengan semangat “Be an Achiever, Carve Your Future”.

Baca Berita sebelumnya:

Mahasiswa Universitas Klabat Ikuti Penyuluhan Hukum Polda Sulawesi Utara Bersama Divisi Hukum Polri 2026